Dia datang mengumbar teriakan, aku senang telinga ini bergetar, dengan begitu menandakan masih tumbuh. Ada kompor gas yang di letakkan dan menyala, dari mana datangnya gas itu ?, sesungguhnya aku tidak begitu mengenali, hanya karena aku buka kain penutup dileherku yang terkadang menyumbat ketika haus, maka bisa kucoba mengerti semuanya, dan bahagia. Kamu menyadari setiap apa yang bergerak di sekitarmu ?, ujung daun itu, mengantar suara yang terpenggal beberapa waktu lalu, kini menjadi pohon besar berusia kayu, aku tidak sedang mau menyebutnya kokoh, mungkin sangat tipis jarak kokoh dan rapuh, seperti lapar dengan kenyang, sedih, bahagia, mereka hanya tinggal di samping rumah yang terkadang diabaikan dan lupa menyirami bunga cantik pada pot murah. Berkejaran katamu ?memang, semua ada waktunya, apakah ada selain mengeluh ?, ditunda saja sejenak untuk itu, jawabannya tidak jauh juga. Dua bibir ini sedang membersihkan saluran air di belakang rumah, tidak mampet, hanya sedikit perlu di injak-injak agar air bisa mengalir tak terlalu deras atau lambat, itu saja. Sudah cukupkah yang perlu kau bawa untuk di perjalanan ? juga peta ? atau mungkin peta bisa kau buat dijalan, bukankah bahkan kau tak tahu kapan mau istirahat, makan, dicium anjing, muntah, mengambil oksigen yang bukan kepunyaanmu, kehilangan waktu duduk, meraih jambu, di perjalananmu ? hmm…kenapa tersenyum ?o ya, sisakan sedikit senyum itu buatmu dan yang lain.., biar senyum itu berkunjung lagi di saat kau sedang susah mengharapkan, setuju ? aku harap setuju. Bagaimana dengan puisimu selanjutnya ? apakah dia sering membawakan sekeranjang roti kecil ? baiklah, sebentar lima menit aku kembali, kubawakan nanti apa yang ada dalam benakmu, selamat jalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar