Perjumpaan kembali seorang kawan, mengkabarkan cerita tentang bungkusan berisi satu lengan tangan yang terpotong dengan mata usia 10 tahunan, Mel-Dog Arte Moris. Aku masih ingat, sore kemarin saluran air di kebun kawanku yang lain, mampet oleh bangkai-bangkai plastik, entah siapa yang membunuhi plastik-plastik itu, yang jelas dia sudah kukuburkan di penampungan ujung jembatan dan akan ada penghuni baru di saluran itu, ikan-ikan. Kepala dalamku menyebutnya Melly, Si Anjing dari Timor-Leste, Sedikit bisa kumengerti ketika mulutnya mengunyah sebagian waktu pembicaraan dengan penuh kegeraman, seperti ketika dia meneriakkan nyanyiannya, sungguh anak muda yang tumbuh di sekitar ketidakadilan. “Harus ada sesuatu yang dilakukan!!” katanya. Sama mudanya denganku, jangan menjadi takut dengan hidup karena mereka sangat menyayangi lebih dari yang kau pikirkan.
Mau makan apa mel ?, sembarang..apa saja, Hajar! ; apa sih pentingnya mau makan apa, buatku ?, satu kalimat yang diam-diam kusepakati sejak aku kecil, apa saja, asal cukup untuk membuat perutku tidak sampai rakus, itu saja.
Si anjing Timor-Leste, akan pergi sejenak ke hutan-hutan untuk menyiapkan peluru-peluru nyanyiannya, sementara dua jam sudah makanan di tanganku enggan menembak kerongkonganku, aku menjadi malas, telinga dan kulitku begitu terusik.
Mungkin, lebih baik aku pergi ke kebun belakang rumah di tempat kawan yang lain lagi, siapa tahu ada saluran air yang mampet atau bunga yang kehausan dan masih sempat tangan yang tak terpotong ini, menyiraminya sambil menyiapkan peluru- peluru untuk menembak kepalaku sendiri ketika terpikir aku tidak harus melakukan apa-apa dan ketidakadilan di tubuh tambah menyusun usianya dan perjumpaan akan kembali menghampiri dengan kegarangan dari dalam. viva la foine ; ‘Alivana afarica tu lauhe’ e nahu.
Mau makan apa mel ?, sembarang..apa saja, Hajar! ; apa sih pentingnya mau makan apa, buatku ?, satu kalimat yang diam-diam kusepakati sejak aku kecil, apa saja, asal cukup untuk membuat perutku tidak sampai rakus, itu saja.
Si anjing Timor-Leste, akan pergi sejenak ke hutan-hutan untuk menyiapkan peluru-peluru nyanyiannya, sementara dua jam sudah makanan di tanganku enggan menembak kerongkonganku, aku menjadi malas, telinga dan kulitku begitu terusik.
Mungkin, lebih baik aku pergi ke kebun belakang rumah di tempat kawan yang lain lagi, siapa tahu ada saluran air yang mampet atau bunga yang kehausan dan masih sempat tangan yang tak terpotong ini, menyiraminya sambil menyiapkan peluru- peluru untuk menembak kepalaku sendiri ketika terpikir aku tidak harus melakukan apa-apa dan ketidakadilan di tubuh tambah menyusun usianya dan perjumpaan akan kembali menghampiri dengan kegarangan dari dalam. viva la foine ; ‘Alivana afarica tu lauhe’ e nahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar