Sabtu, 20 Desember 2008
Selasa, 29 Juli 2008
Perjalanan jarum dan benang ; Serendipity’ halaman belakang.
Begitu menakjubkan persinggahan yang terencana cepat. Setelah malam di kedai kandang sapi atau tempat lain yang sedikitnya disebut kandang babi. Yogyakarta bagian utara. Ada kabar yang menggiring tiga sepeda untuk menuju kota sejarah, Bandung. Keputusan cepat, sepeda tak mandi, pakaian tak ganti, kepala malas di kunci di lemari. Dingin jarum dan benang sudah terbeli oleh tangan – tangan sahabat. Jarum besi berantai asap dan satu kamar toilet mulai melakukan peristiwanya oleh tiga sepeda tanpa label. Kereta kahuripan. Kemarau dingin mencium kemarau hangat. Sepeda Yogyakarta mencumbu halaman Bandung. Malam merayu untuk menggeser tempat duduk pagi, tiga anak kecil bermain sirene dan udara pagi di kepala jarum besi. Lokomotif. Saatnya tiba di halaman kota, adalah stasiun Kiara Condong. Roda sepeda mencium penuh ketidaktahuan, tidak ada teknik mengulum yang hebat, saling bertukar lidah dan airnya, apalagi ukuran – ukuran bibir sensual. segalanya lebih mengenali bagian – bagian sejarah yang sudah tersusun ratusan tahun lalu. Hasrat. Hasrat yang hangat, kukira itu saja. Pagi itu menyapa halaman depan kota itu, adalah bagian besi yang sudah sekian terangkai, STSI tepat di jalan buah batu, nama yang terdengar indah. Banyak sapaan yang terduga dan tak disangka, pertemuan yang mencoba utuh. Ketiga tubuh sepeda dan anak kecilnya sudah tersenyum, hari itu kalender maya menyebutkan siang 26 juli 2008, pada pertengahan. Siang itu akan beranjak menuju kota atas, barangkali sepeda akan sedikit tegak berdiri dan mengendarai dengan kemiringan 45 derajat, cukup menguras otot – otot untuk bangun dari mimpinya. Sebelumnya, kusiapkan waktu untuk mendoa ’ pertukaran darahku ’ dari masa sebelumnya. Qlaroscura, selalu kubiarkan tubuhku memeluk dan pelukan hangatmu, sampai semesta menyelesaikan kelebat selimutnya dan musim salju akan mengenali nafas ayah - ayahnya. Maaf agak terpenggal, sekarang kembali. Perhelatan yang sedang disiapkan pada Tika Lika Gallery dan sedianya Creamus Poems akan menggeliat di malam itu, namun juga belum terketahui apa yang bakalan berlangsung disana, yang disiapkan hanya hasrat, jarum, benang dan bekal di saku dalam, dari peristiwa - peristiwa sebelumnya. Kami cemas dan tidak. Adalah hari dimana pemanasan sudah terlewati, mengenali sudut posisi nyaman, tersesat, mencoba tanya apa yang disuka nyaman, membisikan gairah di telinga, mencium kecil – kecil bagian sudut – sudut tubuh, dengan mesra dan hangat tentunya. Perempatan jalan, pertigaan, jalan searah, jembatan layang, rumah panas, halaman padat, pagar congkak, pintu ramah, pasar suara asing, susunan perkakas di rak kotak megapolitan yang berlebihan. Tiga anak kecil sudah tiba di halaman jalan Bungur 37 - Tika Lika Gallery, lukisan – lukisan perupa berdelapan sedang disiapkan menuju tiang gantungan, kursi – kursi kehormatan mendiami juga. Keramahan sahabat – sahabat mengantar penghilang dahaga, Aduy, Mukti – Mukti, Fery Curtis, Hary Pochang, Candra, Ary Juliant, Siska dan semua menu penghilang dahaga yang menyimpan di benak kepalaku. Rasanya ingin menangis menyebutkan ataupun tidak penghilang – penghilang dahaga ini. Semua peristiwa berikut sekat – sekat cerita yang terkadang mengering di tenggorokan. Tepat di angka delapan pada penunjuk jarum jam, dua gulungan benang, dua jarum, tiga tubuh, menyibak keramaian perhelatan itu, sejenak berpasang - pasang mata menelanjangi, kukira aku kurang tahu apa yang di baliknya, kukira sapaan hangat, itu sudah lebih dari cukup. Maka perhelatan itu dibuka dan dilanjutkan dengan sapaan – sapaan yang lebih hangat, dengan suara tawa dan gelas – gelas. Sudah dari awalnya, akan ada kesudahan, dan sapaan hangat berakhir pada pergelangan tangan. Sepeda meluncur ke bawah dengan kemiringan 45 derajat dengan posisi terbalik dari sebelumnya, hanya sedikit menyiapkan tuas rem tangan, rem kaki, rem sandal, rem blong, rem waspada, rem, rem. Cerita yang berbeda menyusun sayap – sayapnya. Kesenyapan bangunan, lampu yang patuh pada petugasnya, sekian – sekian yang tertidur di tempat persembunyiaanya, bahkan kami melewati keasingan adalah pasar daging yang di jajakan oleh pembeli yang akan datang, aku kurang tahu siapa juragan di dalamnya, penjual atau pembeli, yang jelas ada teknik mencium, mengulum dengan geliat yang sudah cukup terlatih dan membuatnya puas, untuk sementara waktu. Dari kedalamanku menangis untuk kalian.
Halaman belakang, serendipity. Semesta menyusun dengan sedemikian sempurna dan menakjubkan. Sepeda meluncur tak begitu cepat namun cukup mengingatkan bahwa perut tak rela jika tak ikut serta dalam perjalanan ini. Jalanan lengang daerah Cihampelas, yang begitu terkenal dengan segala atribut – atribut plastiknya, namun perut kami bukan dari plastik melainkan daging biasa, maka mufakat jatuh pada lelaki penjual nasi goreng keliling dengan lampu mati pada gerobaknya. Makanan setengah pedas, lampu tiba – tiba menyala, asap perapian kembali bersendawa. Di kejauhan, tiga anak kecil lainnya, menuju makanan setengah pedas yang sudah terlanjur di pesan, kukira habis, karena kasihan kalau mereka tak kebagian. Tiga nasi goreng telah bertemu dengan tiga nasi goreng lainnya. Piring Betsy, piring Sonno , piring Dian, Piring Jewe, piring Pury, piring Danto. Ada juga dua piring lain, sayang mereka meninggalkan sebelum pesanan datang. Perbincangan demi percakapan, cahaya dan lampu langit mengambil gambar – gambar piring – piring itu. Demikian mesra, demikian hangat, demikian – demikian tak terucapkan oleh mulutku. Tak ada pertengkaran beda usia, status tubuh, material pagar, atau lainnya. Hanya nafas yang bercengkerama. Piring – piring yang hangat dan mempesona. Kuingat, bibir piring Dian mengutarakan ’Serendipity’ untuk malam yang sudah digariskan semesta malam itu. Terima kasih, Dian. Bermacam – macam hewan yang menemani piring itu, Tikus, Gajah, Rusa, burung malam, Semut, Rusa tak jadi, Gajah terkejut, Tikus mati gaya. Kepolosan. Larut pada permainan dalam lingkaran tawa dan ketulusan. Betsy, kau ingin semesta mengambil gambarmu dengan sepeda ya? Kukira itu menyenangkan. Wajah kami sudah jadi bubur bayi oleh tawa yang tak berkesudahan. Masih dibenakku juga, lesung pipit oleh luka masa lalu itu, yang kutahu menyimpan senyum menakjubkan, meski seandainya tak memakai kerudung, tetap saja indah. Sepeda hijau masih bersandar usai betsy menciumnya. Bahkan Pury, menciumnya lama – lama, beberapa puluh meter di jalan yang melawan jarum jam, tidak perlu teknik terlatih untuk peristiwa ini, sekali lagi kukira. Sonno, Danto, Jewe kian menjadi ketiga anak kecil yang bahagia. Baiklah, semesta ingin menyudahi penandanya, jalanan semakin meluncur kebawah, melewati sudut – sudut kota yang sebelumnya tak sempat terjamah. Perbincangan serendipity menjadi semacam kado yang tak terlupakan, semoga. Akhirnya, sejenak menyapa hujan sebentar di STSI dan Kahuripan sudah melambaikan kedua tangannya. Kami membalasnya dan sudah terjerembab di sudut gang kaki panjang tiga kursi yang disediakan. Sahabatku Danto, aku hanya ingin menggodamu saja, untuk kehangatan. Satu kata saja, Go brave...; kukira semesta akan mengirimkan ’kertas yang lenyap’ itu kembali, dan semakin dekat, dekat, dekat. Bukankah begitu serendipity? ; coba ciumlah maka akan terasa hangat. Selimut semesta sudah dekat, sahabatku. Selamat. Perjalanan akan menuju ke timur Pulau Jawa. Salam
Sabtu, 26 Juli 2008
( Surat untuk sahabatku, Sonno Tattoo )
Pembicaraan malam itu membuatku birahi, padahal kepalaku masih dipenuhi gambar satu benda yang yang empat jam lalu cukup membuatku asing. Semacam plat/tembaga yang berbentuk bunga terong dengan delapan sisi ujungnya dan bergagang kayu, tidak lebih seperti pengaduk bahan adonan roti. Benda ini mengingatkanku pada sebuah alat cap yang biasa digunakan untuk menandai seekor hewan sebagai simbol otoritas kepemilikan, dengan cara memanaskan sampai pada tingkat tertentu kemudian ditempelkan pada kulit hewan tersebut dan meninggalkan semacam luka terbakar berwarna merah dengan sedikit timbul, maka sah bahwa tubuh hewan itu adalah milik si polan, si locar, si onos atau yang lainnya, tentu saja terbayang akan melewati rasa sakit yang sedemikiannya. Akhirnya, sahabatku sonno, engkau akan melakukan proses itu; ‘Branding’, dengan hasrat terdalammu. Aku percaya, sakit itu akan menggenapi segala rangkaian peristiwamu dari sebelumnya dan menghimpun seluruh energi pada alam semesta dan akan terpusat hanya pada satu, tangan pencipta nafas kehidupanmu menebarkan kekuasaannya, atas gunung, laut, angin, tanah, pepohonan, hewan, tubuh-tubuh dan daging tubuhmu, dan itu adalah kekuatan yang dahsyat yang bersumber dari penciptamu. Kukira, semua isi alam semesta mempunyai kekuatan itu meski pada tingkat yang berbeda-beda. Sejenak kutinggalkan sahabatku sonno. Menurut penuturanmu atau dengan sedikit pengetahuanku, proses ini sudah dilakukan oleh nenek moyang selain ritual tradisi tattoo sejak ribuan tahun silam, dan bahkan untuk di belahan lain di dunia ini masih berkembang atau bahkan memang di jaga kelestariannya, entah pada personal atau kelompok masyarakat tertentu dengan segala aneka ragam variasi, desain makna motif, besar kecil, atau waktu pada proses ritual penciptaannya. Barangkali, untuk di Indonesia atau Yogyakarta belumlah banyak yang melakukan proses ini. Gambar bunga terong dan lengkungan semacam tribal tepat ditengahnya, dari yang kutahu pemaknaanya lebih pada keseimbangan, ketenangan, harmoni pada delapan penjuru mata angin, kukira. Timbul dalam hatiku, atas desakan apa yang mendorongmu untuk melakukan proses ritual ini sahabatku?; baiklah, aku tidak akan menanyakannya lebih jauh sahabatku, namun kuhargai sepenuh hatiku rasa personalmu. Sekali lagi kata kuncinya adalah hasrat energi terdalam; Satu puisi kuhadiahkan baca untukmu nanti.
MUSIM PANAS TUHAN
Energi biru, energi biru, energi biru, energi biru. Dagingpanas, logam adonan, dagingdingin. Kulit kulit berguguran, angin malu pada air. Hasratku penuh satu. Kedalaman hati mereka mendoa, mendoa, mendoa. Nafasmu delapan penjuru mata angin. Energi biru, energi biru, energi biru, energi biru.
……………………………………………………..Peluk hangat dan Sang pencipta dalam hasratmu. Salam yoyo jewe dan Creamus Poems
Selamat datang sahabat, selamat datang semua tak terkecuali, selalu bahagia.
Semesta telah membuat perputaran waktu, gravitasi tidak sedang marah, terlihat senyum pada setiap wajah – wajah yang tampak, pengharapan selalu membuat semangat tidak lagi tersembunyi di belakang bahan adonan melainkan menjelma menjadi penyeka perut. Perkedel semangat. Dari kedua tangan gadhis-gadhis yang kukenal, sebutlah Lia dan Riri. Semua menjadi menarik dan menakjubkan, tentu saja menyenangkan juga, you are inspirate. Saat kekagetan muncul oleh raungan ‘Tetra’, kaki itu tak sengaja menginjak, adalah kaki nino yang sedang mencintai kaki - kaki manusia burung di beranda belakang, ada nama-nama tertera disana, Arya duduk, Ade arya lihat, Maskot jaga, Moka menunggu perkedel, mini bercanda makan dengan Tetra, Codet manusia daun pisang, dan Bongkeng yang menyusuri bau kaki suara suara latah di sebelah bak cucian gelas piring, namun kugoda dengan semprotan bau bay fresh. Apakah kamu kehilangan jejak, Bongkeng ? baiklah, maafkanlah.
Semesta telah membuat perputaran waktu, gravitasi tidak sedang marah, terlihat senyum pada setiap wajah, pengharapan selalu membuat semangat tidak lagi tersembunyi di belakang bahan adonan melainkan menjelma menjadi penyeka perut sejenak. Vibrasi Perkedel. Pada dinding - dinding depan, menghias sudah boneka beneka kanvas terdalam sahabatku – ‘Sofa Coklat Cerewet’ juga : Thanks a lot, sampai lorong – lorong sempit, dan berakhir di dapur canda dua helai daun pisang, serta menggandeng tangan beranda kebun yang nantinya akan menjadi sarang penyamun pada malam hari, sedikit alkhohol, be honest. Tiba tiba sederetan nama-nama siang ini sudah berhamburan melengkapi adonan. Adalah Bayu rambut scotland, Ade foto bmx, Sonno tattoo. Anjing-anjing bergidig - gidig melihat kedatangan mereka, aku juga. Baiklah, ada kabar sedikit tak menyenangkan, dokumen yang sedianya akan di putar untuk sajian penyamun-penyamun nanti bakal urung, hanya karena alasan sepele, kamar berantakan, entah dimana, tidak kutahu kebenarannya, semoga perputaran semesta menggiringmu mendapatkannya dan kau ikut bahagia menjadi adonan disini. Apakah engkau penyamun juga ? kuharap. Seperti siang ini, Bongkeng yang melahap duluan perkedel, cara melahapmu punk habis. Tidak apa-apa.
Sedikit kukabarkan, adonan ini begitu penting, dan sangat penting, kukira. Sudah tidak lagi berpikir batas lintas dalam cara cara berkesenian atau lebih luasnya sebuah pertemuan-pertemuan, dengan cara yang berbeda-beda tentu saja namun itu sangat menghargai keberadaan manusia, masyarakat, hewan, tumbuhan dengan sehat Makhluk hidup. Open mind – open heart.
Selamat selamat selamat, aku berasa sungguh bangga bersahabat dengan semua peristiwa ini, sederhana atau tidak sederhana. Kanvas - kanvas itu menemui nasib di mata pertemuannya, beranda kebun belakang yang akan dirajah, dan sapaan hangat Kris berhelm hitam yang belum sempat dilepas. Oh ..merindu pada sahabat - sahabat lain yang belum menampakan batang lehernya, dimana kamu Danto ? maaf semalam teknologiku marah batunya. Lompat jauh. Kukira, jejak di lantai yang baru saja di pel oleh Lia sudah nampak, teriakannya menandakan sirene peristiwa dalam kalender maya oleh tradisi gypsi, akan berlanjut, selayaknya tangan tangan yang menggunting daun-daun dan meninggalkan potongan-potongan acak. Apalagi yang harus dibaca, apalagi yang harus di baui, apalagi yang harus di dengar, apalagi yang harus dirasakan oleh kulit kulit ini, selayaknya gumpalan hati lembut, dia sudah mencair, akan menemukan arus alirannya dan bermuara pada setiap kekuatan personal-personalnya. Fredom for insight, freedom for outsight, be one. Sudah mendekati akhir, daun – daun telah bersahabat dengan serbet dan di tata tepat di etalase kaca oleh tangan – tangan sahabat lain, air sumur memancar dengan derasnya, manusia burung beranda belakang selalu terjaga walau nino mengkerudunginya, kebun berwarna warni, seluruh ruangan meyerbak wangi, paras cantik lady Jane menyeka lalu lintas depan belakang dengan sapu lidi, dan kuingat teman rumah dua gadhis bermata biru, senapan – senapan besi segera dibungkus saja, tak ada lagi peperangan fisik, hanya senapan – senapan pelepah pisang, kedamaian dan kebahagiaan. Peperangan yang paling sengit adalah hanya didalam diri, dan satu tegukan penghilang dahaga, bisa jadi cara sederhana untuk keluar dari kancah medan sebagai maestro.
Selamat Survive dan semua, Bravo!! : heii !! sahabatku sudah datang. salam hangat selalu bahagia dari Creamus Poems. Yoyo Jewe dan Bagus Dwi Danto
Senin, 21 Juli 2008
Tali Jagad + via via = i love you
...........................................................................................................
Masih keesokan harinya, peperangan berpindah di via via atas kecintaan sahabat dari jauh. Leilani, senyum dan rambut ikalmu sungguh membuat komposisi nakalmu menjadikan secret fruit dan God summers menjadi fiuh..,beranikan jadi pejuang di garda depan untuk kebahagiaan buah jeruk ke telapak semua orang, jangan takut kotor, aku akan menjaga jarimu, mungkin sahabat sahabat lain juga. Via Via. Kukirimkan energi pertemuan dengan 'my really love'waktu itu pada satu meja dan dua kursi. Dua puisi itu menjadi anak panah dari busurku. Juga , sahabatku lain, inna, cepat sembuh ya..,sakit juga terkadang sangat merindukan. Danto. apakah kau masih sibuk dengan kamera itu?baiklah. Ku menghargai kenyamananmu. Ayu dan aroma therapy. hampir saja kau di medan perang tidak berbekal air minum, mungkin sederhana namun cukup perlu juga saat hausmu datang, kakiku tersenyum melakukannya demi untuk mengantar bekal air minummu, kaki, aku bangga denganmu. Sahabat jauh, Ary juliant, sungguh tanganmu sudah menyilaukan mataku, akan kuikuti cahaya itu. I will find my destiny. He will find his destiny. they will find theirs destiny. Happiness.
Kamis, 26 Juni 2008
Rahasia Buah
Rabu, 25 Juni 2008
Mendung Di Selokan + bukan mataram
Senin, 09 Juni 2008
ohhh
iam little bit stress now fr your house but...
i must strong.
aku akan coba carikan uang buat rumah creamus, untuk save berkarya.
nytar kalau inna datang dan danto tak lagi numpang di sana yang membuatnya beban mental.
penciptaku, aku tahu kamu dalam diriku. bantu ya..
baiklah sekarang seperti kapal kena angin ribut dan badai, kesana kemari..
aku jadi ingat syair lagu temanku" tuan rumah tanpa tanah'.
vred ntar aku tidur tempatmu juga, kekasihmu lagi pulang melbourne ya..?
aku sedikit mabuk,sebenarnya sedikit gemas juga, tentang banyak keberadaan perupa' sekarang..?
biarlah mereka lagi ada yang buat diobral obral..
creamus akan kuat dan berkarya..dan membantu..orang orang gelandangan..buruh..guygoiuhgiu...papa..siapapun juga,jangan mereka mati siasia. aku di belakang kalian!!!penciptaku aku percaya padamu sepenuh hati, ambil jiwaku kalau aku lupa.
thats soul for people-people avant garde!!!!
Selasa, 13 Mei 2008
BBM vs creamus
sampai di perjumpaan berikutnya...sebelum mati. take care
Senin, 07 April 2008
hei brother..
:gimana khabar kalian..?kuharap baik, Inna cepet pulang dari bali , kalau sudah selesai.., jewe dan Dwi Danto rindu kamu,ok sampai ketemu.
Keep Fighting.
Senin, 31 Maret 2008
creamus !!! what going on ?
sekarang adalah upaya penyelamatan data-data, yang bisa jadi sudah nongkrong di pasar bekas.ehhmm Fucking shit..! just that. So sorry...:)
Creamus will be all right
Minggu, 30 Maret 2008
Jugling.....
baiklah, harus coba cari metafora dari liku ini,whats happen ...? are you all right..? i hope.
thats also nice ...like poems, i think. what your opinion ?
ok, i wait..:)) would you join??
like the body grow up.., fingger, buttom, knee, hand, mind, skin, hair, penis, then imagination to fly.., all right..?
so , congrats..!!
its very cute..!! feel beautiful and happy.
Sabtu, 29 Maret 2008
Slide Projector Tersembunyi ( tentang " Biji Mata Segitiga " Dan " Anatomi April "
Kusebut “ Biji Mata Ketiga ” Dan “ Anatomi Apri l” adalah dua jerigen.
Dengan sedikit terlambat yang dimaafkan, tiga sepeda membawa dua jerigen ke kebun pesta. Malam itu, kebun tumbuh menjadi bunyi keras dan puitis. Beranda tanah, banyak bunga-bunga dan anggur menumbuhkan daun dari perak, tiga gallon air keras yang tidak seperti batu memberi salam kepada semua orang yang mencintainya dan sesuatu tersembunyi di kedalaman tubuh-tubuh itu.kukira, peristiwa dibangun dari cara berpikir yang dikonstruksi dan tak terduga, keduanya adalah bagian yang tak terpisahkan. ‘ Meaning ’ dari dua jerigen itu adalah barangkali sedang terjadi, kukira mata ketiga tersembunyi di tubuh semua orang malam itu, baik yang mabuk berat, sedikit mabuk atau tidak sama sekali. Akankah creamus merasakannya saat itu ?
Kulihat tubuh Teguh mengguncang kursi-kursi kesana kemari, tangan-tangan yang menengadah menerima sejumput tanah yang bercampur garam dari pot kecil milik bunga yang tumbuh disana, nafas saling menyapa, bunyi keras, tangan Yudha yang sibuk merebut gelas, Tony disudut yang terdiam tenggelam di masa lampaunya, Dhimec memukul drumnya di luar rel kereta, Meme dan Giana yang pipinya habis disapu cium aroma bunga, Dua belas orang berambut beda menyilang kaki dengan saling menghangatkan suasanadi hatinya walau Emeli-Freddy sedikit menyimpan kecemasan karena tubuh bertopi seragam menunggu di ujung lorong kebunnya.
Maksudku dua jerigen itu kan sedang menyelinap dengan damainya, ditambah semua tubuh itu sedang berdamai dengan dirinya, bagaimanakah seandainya tubuh itu tidak sedang berdamai ? kukira dua jerigen ini juga akan ambil bagian mengobarkan perang, wow…sungguh mengerikan!! Kenapa seperti itu..?. Begini, paginya aku berangkat dari sofa coklat cerewet untuk memastikan apa yang sedang berlaku di malam itu..dan sungguh mencengangkan, bau dua jerigen itu masih sangat kenthal artinya kedua puisi itu menempel di kursi-kursi yang berserakan, botol-botol, pecahan gelas, plastik, bunga-bunga, kotak pengeras suara, jejak-jejak sepatu dan kau tahu apa selanjutnya..?
Terlihat petani dan pemulung yang berbinar matanya sedang membaca dua jerigen itu pada tubuh kertas dan tersenyum. That’s nice..
Happy Birthday Freddy, God Speed…!
Malam itu, kebun tumbuh menjadi bunyi keras dan puitis. Beranda tanah, banyak bunga-bunga dan anggur menumbuhkan daun dari perak, tiga gallon air keras yang tidak seperti batu memberi salam kepada semua orang yang mencintainya. Fred, teman-teman telah menyanyikan nafasnya untukmu, bahagia untukmu. The Clue, Dizzy Mizzy Lizzy, Creamuspoems, etc. Pagi ini juga masih sempat kebunmu Fred, menarikku dari tidurku di sofa coklat cerewet-ujung sumur belakang yang masih berfungsi. Fred, aroma bunyi keras dan puitis masih ada, aku menciumnya bersama petani dan pemulung yang berbinar matanya.
Inna, peristiwa dibangun dari cara berpikir yang dikonstruksi dan tak terduga, keduanya adalah bagian yang tak terpisahkan. Jewe dan Dwi Danto minta kematanganmu untuk maaf karena air yang mengeras itu sedikit membuat peristiwanya menjadikan mesin kulkas membuat bongkahan-bongkahan es terlalu keras, rancu katamu. Mungkin “ meaning “dari puisi ‘Biji Mata Segitiga’ adalah yang terjadi pada peristiwa itu atau bahkan sebaliknya, kukira mata ketiga tersembunyi di tubuh semua orang malam itu, baik yang mabuk berat, sedikit mabuk atau sama sekali tidak. Akankah creamus merasakannya saat itu ? - JJJ - Inna, kebun belakang masih menunggu tubuh kita untuk berlatih dan berlatih. Dwi Danto, kau ulang ucapan vokalis Kubro Glow itu di telingaku “ jangan perdulikan ! ” katanya, kukira puisi sedang menyelinap dengan peristiwanya malam itu, tidak usah risau sahabatku, tiga sepeda sedang melaju dengan rem atau tanpa rem, lampu atau tanpa lampu dan ketiganya masih menyapa rumah-rumah dengan gairah, All right…? J
Terakhir, kukira dua puisi ini ; Biji Mata Segitiga dan Anatomi April sedang mengenakan pakaiannya untuk menyapa pesta dari banyak personal, sungguh bangga dan membahagiakan. + Rage Against The Mechine membaui telinga kiriku sekarang.
Selasa, 25 Maret 2008
huhhh...
Dwi dan Inna....
Aku jalan dulu di selokan hujan dulu..,baik baik dan nakal ya. Diskripsi dunianya seperti di atas, cepet pulang kok. Salam
Sabtu, 22 Maret 2008
Shit!!! Burung Garuda
Rabu, 19 Maret 2008
Alam semesta untukmu
Pawon Di Istana Penyair
Pada silsilah sepasang anjing, bernama Kopi dan Kremi, setahuku mereka telah melahirkan empat generasi dari anak-anaknya. Generasi pertama adalah Sabun, beberapa hilang dan seekor yang sekarang menjadi kawan anakku salju selatan, dia memanggilnya Pablo. Generasi kedua adalah Cewet, sekarang telah mengotot di perut orang yang tak kukenal atau barangkali sudah menjadi tinja dan bermuara di kali code, selain itu aku lupa mengenal yang lainnya. Generasi ketiga adalah kutahu saat kelahiran mereka. Pada saat sedang proses menemukan tubuh tari dengan gadis-gadis yang sangat menyenangkan, masak, berlatih, canda, marah, dan seterusnya. Generasi keempat adalah hari ini sedang berlangsung: Sepedaku menyandar di pintu kecil rumah perempuan, dia menjadi kawan setia dari penyair yang sedang kuceritakan ini. Bro..kumemanggilnya walau dia seorang perempuan, “halo, bagaimana kabarmu ?’ sapaan sederhana mengawali perbincangan yang akan diteruskan makan mie, kopi, dan entah apa lagi. Wow…rumah ini sudah jauh berbeda dari yang kukenal dulu, hanya beberapa masih tertanggal ditempatnya. Kebun belakang yang menjadi halaman depan dan belum selesai, kulihat tiga lelaki sedang mengerjakanya dengan gerimis yang terus menghantam kepalanya. Kopi dan Kremi telah meneruskan hidup dengan anak-anaknya, sepasang disambar perupa yang ku kenal sangat ‘opportunis’ pada jaman ini, satu lagi entah, dan tinggal dua, Areng dan Pawon. Areng yang dimukanya terlahir memakai kacamata dan pawon – dalam tiap tidurnya selalu memilih diatas dimana penyair ini tidur. Sekarang penyair sedang di Jakarta untuk memuntahkan isi kepalanya di tiap sudut sungai-sungai dan tembok disana. Pawon belum mengenal tiap sudut rumah, kebun, halaman, seperti ayah ibunya dengan leluasa mengencingi sebagai tanda kekuasaanya, dan sekarang penyair telah membangun tembok di tiap sudutnya. Kuceritakan sedikit tentang bagaimana saat hujan deras datang, rumah itu berubah menjadi perahu nabi nuh dengan keluarga Kopi dan Kremi sebagai nakoda. Makanya penyair memutuskan menambal perahu itu dengan lukisan, bait-bait, matinya bunga-bunga dan pohon ketela. Penyair yang 57 tahun telah cukup mengaduk-aduk Indonesia seperti ketika tukang akan membangun tembok, dia perlu beli semen, pasir, batu-bata, dan melemparkan kesana kesini, dan lupa ada sarang semut, sarang kadal, sarang lebah, sarang cacing yang berdiam disana melebihi empat generasi sepasang Kopi dan Kremi. Afrizal Malna. Baiklah, biarlah perahu di tambal sesukanya seperti puisi-puisinya berserakan dimana-mana. Aku tidak sempat ketemu dengannya karena dia sedang muntah di Jakarta. Aku hanya akan mengatakan, Pawon sedang tumbuh ya, dan bagaimana kabarmu ? kuharap sehat. “ Mas, Pawon sedang menciumi bekas sarang semut itu, kau melihatnya ? “.
Sepatu, Gadhis Dan Pintu Perupa
Minggu, 16 Maret 2008
Pesta Di Sarang ‘ Pemabuk ‘
Dan.., aku duluan ke museum, kutunggu disana ya. Kita sama-sama tahu akan ada pesta puisi ala hip hop bro…, hehehe juga pesta perpisahan Jessica yang mau mengeram sebentar di negaranya. Sepedaku tidak melibas lampu merah, karena ada hak orang yang menyeberang meskipun penyeberangan itu kosong. Masuk area…slack! Sepeda bebas parkir, hehhehe…silahkan, itu yang kudengar walau tak kulihat muka penjaga itu, sangat intim dan ramah. Ratih, satu nama yang belum jadi satu frekwensi ‘ memakai gaun merah, cantik dan sedikit terlihat capek, mungkin habis cuci piring dua hari, dia berdiri di sebelah penyair eks tapol HerSri dan seseorang yang menaksir sepedaku. Itu kudengar dari kamu dwi danto. “ Kusen, ambil saja, asal ditukar satu lukisan “ kataku. Aku masih menunggu kamu Dwi Danto, ketika Kulihat Inna menendang angin di depanku, wajahmu sudah siap untuk menyambut Ria Irawan yang akan kau bombardir dengan keringat jari-jarimu sedari siang. Keringat itu sudah jadi Inna ? dalam hatiku. Shanty, sudah menyungging senyum duduk bersebelahan dengan Ria Irawan, yang konon seperti dewi bawang merah di dapurku atau Miss Annie Sloman, hehehe, aku tidak tahu. Apakah bawang merah itu sedang melumat keringat jarimu Inna ? Aku senang melihatnya Inna, seandainya di medan pertempuran, kamu masih pejuang dan akan di garis depan walau kau tahu amunisimu mungkin tak cukup banyak. Itulah orang orang avant garde !!. tentang bawang merah itu, santai saja, kalau di dapur tak ada, masih banyak tomat, cabe, terong, bawang Bombay, sayuran di kebun belakang, sampai waktunya. Kita akan masak sup kan ?? iya kan dwi danto…heheheh, creamus makan makroni sudah,..creamus akan makan sup.,hehehe, bukan creamus makan bawang merah. Kutinggalkan bawang merah ke toilet untuk mencuri dua botol anggur dan bir, sudah ada ada di benak, aku masih menunggumu dwi danto, untuk melewatkan pesta puisi “ what the fuck !1” ini dengan botol-botol curianku bersama kamu, Come..come Inna, tinggalkan bawang merah itu, mari kita buat dunia puitis dengan keringat dan cara kita. Terakhir untukmu Dwi Danto, malam itu sudah jadi puisinya, dengan surat pisah dari pengadilan, yang kau bawakan dari ibu salju selatan, orang yang kucintai namun dunia menginginkan lain, tapi malam itu kubisikkan selamat dan sedikit kucium telinganya, dia tersenyum . Puitis. Terima kasih brother..:
:::::: Dhik Igit, kamu telah membuat puisi denganku dan kakak yang mencintaimu, malam itu, bersama botol-botol anggur yang ku curi dari toilet.
:::::: Jessica, thanks a lot untuk masturbasi 100 dolar yang kau berikan padaku, take care and see you soon
:::::: Bayu widodo, pelukan hangat untuk ‘Bunga Terakhir’ yang di curi kolektor dan mari kita buat selebaran, WHAT THE FUCKER…!!.hehe. Danto.., sambut itu !! hehe
:::::: Ratih, gaun merahmu cukup menginspirasiku.
:::::: Doddy TP, thanks a lot untuk akhir yang puitis dari usai pesta, malam itu, dua sepeda mendera hampir pagi dengan cengkerama dan menyapa orang-orang yang tak kita kenal sebelumnya, penyapu jalan, ibu ke pasar, orang yang dianggap gila, ayah ibu dari anaknya dan orang-orang tua yang ‘nyenyak’ di beranda toko-toko. Hatiku bersama kalian.
Profil
- Creamus Poems
- (dibaca: kre-mus-pums) Kremus dalam bahasa jawa bisa berarti mengunyah. Sedangkan Creamus Poems jika diadopsi secara longgar dari Bahasa Latin dan Inggris berarti 'kami mencipta' puisi.
Insight Posts
Label
- yoyo jewe (26)
- inna hudaya (17)