Minggu, 24 Agustus 2008
Roda puisi yang berputar
Aku jatuh cinta pada kalian, seperti aku mencintai puisi yang merangkai kisah dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya. Puisi telah membalut lelahku. Kaki yang lelah. Kaki yang melangkah di bawa roda sepeda. Ke mana cerita di bawa oleh takdir. Jogja hanya persinggahan, sebelum peristiwa yang lain menarik ke puisi berikutnya. Jogja adalah studio rekaman. Tempat merangkai peristiwa menjadi puisi yang datang dari berbagai penjuru kota.
Pesan tiba. Perjalanan menuju sunda kelapa. Melewati kota lama dan café Batavia. Setahun yang lalu aku ada di sana, di antara bangunan tua dengan pintu dan jendela yang tertutup. Menikmati bir di kursi yang hangat di belakang jendela kayu. Pesan tiba. Masih kutinggalkan sisa bau tubuhku di dinding museum fatahilah yang tak sempat ku jamah. Pesan tiba. Lalu kuingat, kalian menuju sunda kelapa, melalui kota lama di mana aku pernah duduk dan berfikir tentang puisi, jauh sebelum aku bertemu kalian. Pesan tiba. Kalian menuju ke sana setahun setelah impian tentang puisi ku selipkan di balik jendela kota. Apakah bau itu masih ada?
Pesan berakhir.
Saudaraku danto, kamu di mana? Tiada kabar. Seorang gadis cantik menggiringmu ke rumah yang lain? Rumah dengan dengung elektrik dan pesta pulsa? Hati-hati, cinta bisa membuatmu sulit tidur. Rayuan pulsa murah bisa membuatmu candu. Candu itu tak cerdas lagi. di bawah kulit tanganmu, bloemen yang cantik telah menjelma.
3 lebah, satu biji bunga matahari. 3 cerita dengan 3 alam peristiwa yang berbeda. Sebuah puisi tiba pagi ini.
Dengar?
Biji bunga matahari dan 3 lebah
Pada suatu sore perbincangan di mulai di kebun belakang. Perpisahan akan terjadi, kisah akan merebak di mana kaki berpijak. Tak usah khawatir, ujar lebah ke-2,waktu masih panjang dan akan selalu ada pertemuan yang lain.
Satu lebah lain mengetok kepalaku, 3 ketukan di bagian belakang. Puisi membuat hatimu lembut, seperti angin pelan membelai pipi yang ranum. Pertemuan adalah ikrar. Puisi adalah rumah.
Seperti burung manyar, berkelana dari satu pesisir ke tanah lain. Diselipkan puisi di antar kedua sayapnya, menyebarkan benih di setiap tempat. Sayap-sayap yang retak. Kaki yang lelah. Tubuh yang bau. Hujan membersihkan, membalut lelah menjadi puisi yang Indah.
Matahari coklat, sinar jingga menerobos kening yang berkerut. Biarkan pintu rumah terbuka. Bum !
Jumat, 11 Juli 2008
Tunggu aku ya !
lama kita tak berkumpul di meja bundar
tak ada kopi, tak ada gorengan
tak ada juga suara gemerincing perut yang kelaparan
atau kita sajakah tak saling mendengar?
aku diam-diam merindukan kalian
jewe, selokan mataram itu tak kering
ia hanya tengah memenuhi dirinya dengan kebajikan
sebentar ia kan pulang
menghijaukan sawah yang kering oleh kemarau
menghapus dahaga setiap lelaki butut yang kesepian
tunggu aku ya,
saudaraku, danto dan jewe
aku tidak lupa impian kita
sedikit bersabar sebelum bintang jatuh ke pangkuan kita
jangan berhenti berdoa ya
aku tak peduli siapa tuhan kalian
atau kalian tak percaya tuhan
persetan lah!
tapi jangan lupa berdoa
minta agar kita berkumpul kembali, segera!
tunggu aku ya!
Senja
ketika senja mulai turun dan kubawa sebongkah rindu bersama angin
pecahan hati mulai retak sementara hitam pekat kian memudar
aku tautkan hati pada cahaya yang membuat siang menjadi terang dan membuat malam tetap berbintang
tak ada yang perlu kau yakini ketika kau telah di pilih
berbaik hati lah pada dirimu sendiri sayangku
Selasa, 24 Juni 2008
Idem
Ada baiknya sama-sama berfikir dan belajar tidak meremehkan waktu dan janji.
Rabu, 18 Juni 2008
Kepada kedua saudara lelakiku,
jangan khawatir bung, jika tuhan masih memelihara kita dari terik panas dan dahaga maka tuhan pun kan membukakan jalan bagi pejuang puisi macam kita. ayam saja masih di beri rejeki di tanah gersang, apalagi kita yang mencintai keindahan kata dan jiwa. tuhan sedang bercanda, di pikirnya kita tak serius berkarya. ah apa iya?
aku pun kadang menahan lapar, namun ku pikir dalam lapar seringkali kita belajar menjadi bijak. apa artinya bulir padi bagi mereka yang memiliki semangkuk gandum? benar apa yang kau bilang bung danto, kita syukuri saja apa yang ada hari ini. kita masih saling memiliki saja sudah hadiah yang sangat indah. dalam kata dan rima kita berbagi impian, saling mengikat hati menjadi barisan yang tangguh.
aku menjauh dulu bro, sementara saja sampai aku mampu. agar nanti sepiring nasi tak lagi masalah, agar kamu mas jewe tak perlu lagi mengisap tembakau tak jelas rasanya itu. do'akan aku dan ku kirim juga do'a untuk kalian.
Minggu, 20 April 2008
Welcome home to Jakarta
Terjebak di tengah-tengah kemacetan sembari bereksperimen dengan imajinasi kadangkala lebih menyenangkan daripada hanya duduk mematut di zona nyaman atau sekedar mengelu-elukan impian.
Aku suka kericuhan kota ini, kekejamannya bisa mendewasakanku, kebisingannya bisa membuatku lebih bijak, semoga begitu...
Senin, 14 April 2008
Persimpangan jalan
Harus menentukan arah dan percaya pada angin,entah apa yang kan kutemukan di ujung jalan sana,mungkin persimpangan yang lain hingga akhirnya jalan pulang terbuka lebar.
Aku hanya ingin rebah sebentar saja di antara rumput hijau tepat di sebelah sarang semut. Besok saja aku memilih..
Siapa yang hendak menemaniku duduk di senja hari di sofa coklat cerewet di kebun belakang? Sawah sudah dipanen dan siapapun bisa berlarian di sana,
aku sudah bosan pada anjing2,kucing2,kambing,bebek,semut merah dan burung pipit,aku ingin seseorang menemani ku duduk bersimpuh di bawah langit yang sendu ini,adakah seseorang di sana? Aku hanya butuh seseorang yg bisa bicara dalam diam dan saling mengerti lewat anggukan.
Sebelum aku memilih besok,begitu maksudku.
Minggu, 13 April 2008
3 ketukan + 3 kecupan
2 kecupan di pelipis kanan dan 1 pelukan di lutut kiri, tiada sakit lebih sakit selain berlari sehabis subuh mengejar kabar dari jauh, dibawa angin melalui bukit dan udara dingin. Sebelum pukul 8 tiba di dahi tepat di belakang biji mata segitiga.
3 ketukan pintu + 3 bekas luka = ciuman panjang penghibur hati, meski perut tetap lapar.
Sabtu, 05 April 2008
Kabar dari Bali
matahari bali tak seramah matahari di kebun belakang rumah, di sini kulitku terbakar tapi pikiranku lebih buruk lagi. aku baik-baik saja di sini, masih ada laut yang menghiburku tapi aku mendengar sedikit bising di kepalaku, tentang esok hari, tentang pekerjaanku. Kehilangan semua data itu seperti amnesia! hidupku, pekerjaanku di sana. memikirkan segala sesuatunya harus di mulai dari nol tidak selalu menyenangkan. ah, rancu pikiranku ini padahal jelas aku tidak mabuk arak bali.
mama bilang harta hilang tak masalah, yang penting jangan kehilangan iman.itu betul ! tapi apa lagi ya rencana tuhan? teka-teki silang tuhan seringkali membingungkanku meskipun biasanya berakhir manis. ah, sudah lah...mas-mas maafkan keluh kesah ini. Tapi sekarang aku tahu aku memang betul, manusia itu lebih menakutkan daripada setan ya?!
Senin, 24 Maret 2008
Selamat Makan Mama
Selamat makan mama,
Sedikit wortel dan sayur mayur kupotong kecil-kecil
Kutambah sedikit garam di atas api sedang
Makan malam untukmu mama,
Tak setiap hari ku memasak untukmu, anggap saja ini hadiah
Memang tak bisa menggantikan untaian doa dan kasih mu padaku
Tapi setiap potongan kecil wortel ini penuh cinta
Penuh kasih sayang dan penghormatan untukmu
Bagiku, terlalu asin tapi untukmu masih saja kurang garam
Tak apa-apa, lidahmu lebih penting dari punyaku
Makan lah mama sayang,
Aku takkan lama di sini, besok malam aku harus sudah pulang
Bermanja-manjalah sepuasmu, aku tak keberatan
Bagiku 2 hari ini adalah sepenuhnya waktu untukmu
Takkan bisa menggantikan hari-hari tanpa aku di sini
Tapi semoga kepulanganku yang sebentar ini bisa membahagiakanmu
Aku cinta kamu mama ku sayang…
Baik-baiklah menjaga tubuh mu, hati-hati lah dengan fikiranmu !
Sabtu, 22 Maret 2008
Pertigaan nitiprayan mengubah takdir cake pandan hijau muda
Sepotong cake pandan duduk di atas meja dengan kaki penuh luka
Sehabis perjalanan jauh dari utara, cake hijau muda akhirnya menemukan tuannya
Seorang perempuan gila kue yang terkapar dengan kaki penuh luka
Sepotong cake yang di bayar dengan harga mahal, pantas untuk sebuah keinginan yang terpendam
Ya, perempuan itu menunggu cukup sabar untuk sepotong cake pandan hijau muda
Dengan menggadaikan beberapa lembar uang kertas terakhirnya dan mengurangi hisapan tembakau
Hari itu, jumat tengah hari si cake pandan di jemput dari rumahnya
Perjalanan dari utara menuju selatan menghantarkan cake pandan ke rumah tuan barunya
Dengan sisa 2 lembar uang seribuan dan koin-koin receh, perempuan itu pulang
Dengan kotak kecil berisi cake pandan hijau muda
Dan di sana, di sebuah pertigaan nitiprayan
Pasir-pasir dan kerikil merubah takdir cake pandan hijau muda
Ban bulat hitam terpeleset, bumi menyangga tubuh perempuan itu
Dan kotak berisi cake pandan hijau muda tergeletak di bawah kemudi, tak lagi kotak tapi persegi mendatar, my cake…
Ada luka di ujung kaki dan tangan perempuan itu, tapi tak peduli
Ada sedikit perih ketika melihat cake pandan hijau muda tak berbentuk lagi
“ aku mencintaimu, dan sejauh ini aku akan membawamu serta bersamaku, ayo pulang !”
Diraihnya kotak tanpa membukanya, tak di rasainya luka di tubuhnya
Ia hanya ingin pulang bersama cake pandan hijau muda
Dan kini, pukul setengah dua lebih 3 menit
Cake pandan hijau muda tanpa bentuk duduk bersama kaki penuh luka
Kaki yang sakit dan cake yang tak lagi berbentuk kotak melainkan datar dan tipis
Rasanya tak lagi manis, tapi seperti puisi yang melumaer di lidahku.
Cake termahal yang dibayar dengan kaki penuh luka.
Kamis, 20 Maret 2008
Nasihat Elang Pada Anaknya
Kau tahu bahwa semua elang hanya pantas bagi sesama elang
Dengan segenggam sayap, masing-masing memiliki kaki singa
Harus berani dan hormat diri, sergaplah mangsa yang besar saja
Jangan bersibuk dengan ayam hutan, burung weliwis dan pipit
Kecuali jika kau inginkan kepandaian berburu
Adalah hina, pengecut tanpa berusaha mengeram
Membersihkan paruh kotor dengan mengambil makanan dari tanah
Elang tolol yang meniru cara burung pipit yang pemalu
Kan menjumpai nasib malang
Sebab dialah yang akan menjadi mangsa buruan
Ku tahu banyak elang yang jatuh dalam debu di mata mangsanya
Oleh karena mereka memilih jalan hidup burung pemakan gandum
Peliharalah martabatmu hingga hidupmu bahagia
Selalulah geram, keras, berani dan kuat dalam perjuangan hidup
Biarlah ayam hutan yang malang punya tubuh indah dan langsing
Bangunlah dirimu kokoh seteguh tanduk rusa jantan
Apapun kesenangan yang berasal dari dunia fana di sini,
Datang dari hidup yang penuh keberanian, ketabahan dan kecermatan
Nasehat berharga yang telah diberikan elang pada anaknya
Jadikan tetesan darah kemilatmu berkilat-kilat bagai manikam
Jangan kehilangan diri dalam penggembalaan domba dan kerbau
Jadilah dirimu seperti nenek moyangmu semenjak dulu
Kuingat dengan baik betapa orangtuaku senantiasa menasehatiku
Kita para elang tak mencari perlindungan di taman dan ladang manusia
Surga kita di puncak-puncak gunung, gurun-gurun luas dan tebing-tebing jurang
Bagi kita haram menjemput butir-butir jelai dari tanah
Sebab tuhan telah memberi kita ruang lebih tinggi yang tak terbatas
Penduduk kelahiran angkasa yang berdiam di bumi
Di mataku lebih buruk dari kelahiran bumi
Bagi elang ladang buruannya adalah karang dan batu jurang
Karang baginya adalah batu gosok untuk mempertajam cakar-cakarnya
Kau adalah salah seorang anak kebuasan yang bermata dingin
Keturunan paling murni dari burung garuda
Jika seekor elang muda di tantang oleh seekor harimau
Tanpa mengenal takut,
Ia akan membelalakan matanya
Terbangmu pasti dan megah
Seperti terbang malaikat-malaikat
Dalam nadimu mengalir darah raja purba puncak-puncak gunung
Di bawah kolong langit yang luas ini kau tinggal
Martabat terangkat oleh matamu
Tak boleh meminta makanan dari tangan orang lain kapanpun saja
Baiklah kau membawa diri
Dan dengarkan selalu nasehat yang baik dan luhur !
Kami pulang, Yo !
bung danto pamit pulang ya tadi sore? menjenguk ibu?
aku juga hendak bersua dengan ibu, besok tiba aku menunggu dengan sabar
sendiri dulu ya di sini..
tidak apa-apa, eyang kakung pasti datang
lambat-lambat dalam mimpi menjelang subuh..
nanti kami kirimkan kabar bahagia dari rumah..
masih ada mie, ada juga kopi dan deterjen bubuk..
campur saja semua jadi puisi, aku tak keberatan...
besok lusa kita bertemu lagi di kebun belakang
aku, kamu dan bung danto, 3 benih di atas meja bundar berputar
Selasa, 11 Maret 2008
Mantra harian
tak ada lelaki yang bisa kupeluk di malam hari, tapi aku tetap hangat
tak ada yang menghiburku ketika merasa sepi, tapi aku baik-baik saja
kenapa?
karena langit sore masih menyisakan warna di antara awan kelabu
bintang masih melirik walau malam gelap gulita
dan matahari pagi setia menungguku menyapa
kenapa harus di bikin susah?
selamat pagi matahari,
aku datang dan siap menyambut hari yang indah
silahkan terang silahkan berawan bahkan hujan sekalipun
aku tetap setia menerimamu...
Senin, 10 Maret 2008
Telanjang dan setangkai mawar
aku kirim kabar lewat secarik tulisan virtual ini
pada suatu pagi aku terbangun dari mimpi dan aku mendapati diriku telanjang
tapi aku tak malu, tak juga risih...
ada setangkai mawar merah di sisi tempat tidurku
bung danto, mas yoyo jewe...
aku sedang jatuh cinta
apa itu cinta ? tanyaku selama ini
aku tak tahu, aku hanya senang telanjang karenanya
perutku besar, blendung seperti balon
pantatku juga tak rata gara-gara sinkayo
tapi aku tak peduli lagi, aku merasa bunga tercantik pun tak bisa menyaingiku
kali ini, besok lusa atau selamanya...
kenapa kalian tak menjawab?
oh, kalian sudah lelap tertidur rupanya
tak apa, silahkan bermimpi yang indah
besok pagi kuharap kalian terbangun telanjang
dan bahagia seperti aku
selamat malam saudaraku !
Kamis, 06 Maret 2008
Tentang Kebenaran
Ketika kebenaran berada di tangan kebanyakan orang yang berfikir tentang kebenaran itu, sesungguhnya kebenaran itu telah menjadi salah. Kebenaran yang sebenar-benarnya ketika kebenaran itu di junjung di atas penderitaan dan kesakitan yang mampu membuka setiap mata bahwa kebenaran adalah sesuatu yang mendasar, mendalam, damai. Bukan bahan yang bisa di tarik ulur menjadi sebuah pertentangan antara minoritas dan mayoritas.
Kebenaran berada di tengah-tengah antara kekuasaan dan penderitaan. Kebenaran berada di antara terang dan gelap. Kebenaran berada di antara rasa kenyang dan lapar. Kebenaran adalah apa yang tak mungkin di terima dan juga tak mungkin di tolak.
Kebenaran tak berteman dengan rasa sakit, tidak juga berpihak pada kesenangan. Kenikmatan atas kebenaran adalah sesuatu yang melayang-layang di antara batas sadar dan ketidaksadaran.
Kebenaran adalah sesuatu yang tak bisa di klaim oleh apa dan siapapun. Kebenaran tidak menjadi milik mereka yang berakal atau buta huruf sekalipun. Kebenaran takkan mampu di takar dengan rasio ataupun di lihat dengan mata telanjang.
Kebenaran tidak berpihak pada orang-orang yang alim ataupun mereka sang pendosa. Kebenaran akan menjadi hilang dalam makna kebenaran itu sendiri.
Kebenaran telah memasung pikiranku dengan kemelut-kemelut yang tak mampu ku singkap dengan akalku. Rasioku tak ubahnya benang-benang yang tercampur aduk berbelit melingkar satu sama lain, kacau, berputar-putar di fikiranku. Kebenaran telah membutakan jalanku dalam menemukan makna dari kebenaran itu sendiri.
Ketika aku mentautkan fikiranku pada kebenaran, maka apa yang di tangkap oleh indera penglihatanku menjadi kabur dan kehilangan artinya. Tembok-tembok, bentuk, warna, suara, gambar, abjad…semuanya menjadi semu, seperti raga yang melayang-layang tanpa jiwa yang memaknainya.
Ketika aku mentautkan diriku pada kebenaran, maka segala yang berada di seputarku menjadi kosong hampa sunyi sepi, nol.
Pada titik itu aku tak tahu lagi apa makna kebenaran.
Yang ku lihat hanya terang benderang.
Profil
- Creamus Poems
- (dibaca: kre-mus-pums) Kremus dalam bahasa jawa bisa berarti mengunyah. Sedangkan Creamus Poems jika diadopsi secara longgar dari Bahasa Latin dan Inggris berarti 'kami mencipta' puisi.
Insight Posts
Label
- yoyo jewe (26)
- inna hudaya (17)