Pada silsilah sepasang anjing, bernama Kopi dan Kremi, setahuku mereka telah melahirkan empat generasi dari anak-anaknya. Generasi pertama adalah Sabun, beberapa hilang dan seekor yang sekarang menjadi kawan anakku salju selatan, dia memanggilnya Pablo. Generasi kedua adalah Cewet, sekarang telah mengotot di perut orang yang tak kukenal atau barangkali sudah menjadi tinja dan bermuara di kali code, selain itu aku lupa mengenal yang lainnya. Generasi ketiga adalah kutahu saat kelahiran mereka. Pada saat sedang proses menemukan tubuh tari dengan gadis-gadis yang sangat menyenangkan, masak, berlatih, canda, marah, dan seterusnya. Generasi keempat adalah hari ini sedang berlangsung: Sepedaku menyandar di pintu kecil rumah perempuan, dia menjadi kawan setia dari penyair yang sedang kuceritakan ini. Bro..kumemanggilnya walau dia seorang perempuan, “halo, bagaimana kabarmu ?’ sapaan sederhana mengawali perbincangan yang akan diteruskan makan mie, kopi, dan entah apa lagi. Wow…rumah ini sudah jauh berbeda dari yang kukenal dulu, hanya beberapa masih tertanggal ditempatnya. Kebun belakang yang menjadi halaman depan dan belum selesai, kulihat tiga lelaki sedang mengerjakanya dengan gerimis yang terus menghantam kepalanya. Kopi dan Kremi telah meneruskan hidup dengan anak-anaknya, sepasang disambar perupa yang ku kenal sangat ‘opportunis’ pada jaman ini, satu lagi entah, dan tinggal dua, Areng dan Pawon. Areng yang dimukanya terlahir memakai kacamata dan pawon – dalam tiap tidurnya selalu memilih diatas dimana penyair ini tidur. Sekarang penyair sedang di Jakarta untuk memuntahkan isi kepalanya di tiap sudut sungai-sungai dan tembok disana. Pawon belum mengenal tiap sudut rumah, kebun, halaman, seperti ayah ibunya dengan leluasa mengencingi sebagai tanda kekuasaanya, dan sekarang penyair telah membangun tembok di tiap sudutnya. Kuceritakan sedikit tentang bagaimana saat hujan deras datang, rumah itu berubah menjadi perahu nabi nuh dengan keluarga Kopi dan Kremi sebagai nakoda. Makanya penyair memutuskan menambal perahu itu dengan lukisan, bait-bait, matinya bunga-bunga dan pohon ketela. Penyair yang 57 tahun telah cukup mengaduk-aduk Indonesia seperti ketika tukang akan membangun tembok, dia perlu beli semen, pasir, batu-bata, dan melemparkan kesana kesini, dan lupa ada sarang semut, sarang kadal, sarang lebah, sarang cacing yang berdiam disana melebihi empat generasi sepasang Kopi dan Kremi. Afrizal Malna. Baiklah, biarlah perahu di tambal sesukanya seperti puisi-puisinya berserakan dimana-mana. Aku tidak sempat ketemu dengannya karena dia sedang muntah di Jakarta. Aku hanya akan mengatakan, Pawon sedang tumbuh ya, dan bagaimana kabarmu ? kuharap sehat. “ Mas, Pawon sedang menciumi bekas sarang semut itu, kau melihatnya ? “.
Rabu, 19 Maret 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Profil
- Creamus Poems
- (dibaca: kre-mus-pums) Kremus dalam bahasa jawa bisa berarti mengunyah. Sedangkan Creamus Poems jika diadopsi secara longgar dari Bahasa Latin dan Inggris berarti 'kami mencipta' puisi.
Insight Posts
Label
- yoyo jewe (26)
- inna hudaya (17)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar