Rabu, 19 Maret 2008

Sepatu, Gadhis Dan Pintu Perupa

Pagi pukul empat, mataku ditebas tembakau kosong. Kutunggu sampai matahari terbit setelah mengayuh angin sepeda ke rumah Inna, masih kosong. Sabun mandi 4 batang dan 1 pasta gigi dalam tas putih di jinjing sepatu menuju toko ibu itu, heheh.. sakuku tidak sering berisi rupiah jadi ku tukar saja benda itu dengan tembakau tiga bungkus. Kebun belakang mulai menggodaku, sapu lari kesana-kesini seperti kesetanan, nafas juga belum teratur, kepalaku terbentur kepala Dwi Danto, kenapa Dia tidak datang ya..padahal katanya akan menyelesaikan dokumen visual Creamus, oohh dia rindu Ibunya, yah..apa sih yang lebih penting selain pertemuan dengan seorang Ibu ? tidak ada, itu sangat penting”, kata dalam hatiku. Aku juga rindu Eyang Putriku.., kamus terlengkap yang menyimpanku selain Yoyo. Sepatuku masih terengah-engah dan menerobos rombongan nyamuk dari belakang rumah Piri, gadhis yang kukenal sudut bibir dan tangannya yang ramah. “ Piri, kamu tidak sedang mau menggambar ? “. Diam-diam hasratku mulai menyusup, untuk berada dirumahmu saat kamu sedang orgasme dengan pikiran dan kuas catmu. Dinding putih itu telah ada nama akhir orgasme yang di paku ketika tiba-tiba laptop usil ini cerewet dengan tulisan dan puisi Creamus yang tersimpan di dalamnya, dasar teknologi gak pernah nimba air sumur !! manual sedikit memang kenapa ? kumarahi saja dia. Perbincangan dengan piri menggiring tentang Creamus, Dwi Danto lagi aksi, Inna ngoceh dengan kamera di tangan..bla bla bla, sampai lukisan piri yang belum jadi. Saat tangan piri sudah sangat sibuk dan jariku setengah terkantuk-kantuk, Bayu Widodo, orang ‘gila’ yang barusan “Bunga Terakhirnya” dicuri kolektor, datang dengan cerita listrik dirumahnya yang di cium petir, hehehe petir bawaan kolektor itu kali !! : Sekarang dia sudah mulai ngobrol tentang tawaran akan buat selebaran itu. Dantooo…lets came here…! Join..join..: ohhh, perbincangan judul lukisan Piri jadi kelupaan, ok, Kita mulai saja : On The Move, satu lukisan yang dia tahbiskan pada dua kaki dan wajah menyerupai pecahan-pecahan topeng dengan komposisi letak yang tidak biasa pada anatomi tubuh. Tumbuh No. 2, dalam pikiranku, seandainya aku menamainya, atau puisi ?..huh..! – ehmm…, Dua perupa mulai berdiskusi nih.., lebih baik aku hanya ngomong dengan telingaku, biarkan pintu perupa itu memompa api untuk besi yang belum jadi, sampai tukang pande menyelesaikan keris, dan Empu kenyang dengan makan siangnya. Terima kasih Bayu dan Piri, atas ‘ lauk pauk makan pagi ‘ yang disajikan tanpa piring, aku jadi kenyang, kurasa seorang Presiden pun akan ngiler dengan yang barusan ini . baik, “ maaf pak presiden, saya tinggal sebentar, saya akan gabung dengan mereka..” Bye- Bravo.

Tidak ada komentar:

Templates by Blog Forum