Sabtu, 26 Juli 2008

WELCOME ADONAN PERKEDEL + SURVIVE
Selamat datang sahabat, selamat datang semua tak terkecuali, selalu bahagia.

Semesta telah membuat perputaran waktu, gravitasi tidak sedang marah, terlihat senyum pada setiap wajah – wajah yang tampak, pengharapan selalu membuat semangat tidak lagi tersembunyi di belakang bahan adonan melainkan menjelma menjadi penyeka perut. Perkedel semangat. Dari kedua tangan gadhis-gadhis yang kukenal, sebutlah Lia dan Riri. Semua menjadi menarik dan menakjubkan, tentu saja menyenangkan juga, you are inspirate. Saat kekagetan muncul oleh raungan ‘Tetra’, kaki itu tak sengaja menginjak, adalah kaki nino yang sedang mencintai kaki - kaki manusia burung di beranda belakang, ada nama-nama tertera disana, Arya duduk, Ade arya lihat, Maskot jaga, Moka menunggu perkedel, mini bercanda makan dengan Tetra, Codet manusia daun pisang, dan Bongkeng yang menyusuri bau kaki suara suara latah di sebelah bak cucian gelas piring, namun kugoda dengan semprotan bau bay fresh. Apakah kamu kehilangan jejak, Bongkeng ? baiklah, maafkanlah.

Semesta telah membuat perputaran waktu, gravitasi tidak sedang marah, terlihat senyum pada setiap wajah, pengharapan selalu membuat semangat tidak lagi tersembunyi di belakang bahan adonan melainkan menjelma menjadi penyeka perut sejenak. Vibrasi Perkedel. Pada dinding - dinding depan, menghias sudah boneka beneka kanvas terdalam sahabatku – ‘Sofa Coklat Cerewet’ juga : Thanks a lot, sampai lorong – lorong sempit, dan berakhir di dapur canda dua helai daun pisang, serta menggandeng tangan beranda kebun yang nantinya akan menjadi sarang penyamun pada malam hari, sedikit alkhohol, be honest. Tiba tiba sederetan nama-nama siang ini sudah berhamburan melengkapi adonan. Adalah Bayu rambut scotland, Ade foto bmx, Sonno tattoo. Anjing-anjing bergidig - gidig melihat kedatangan mereka, aku juga. Baiklah, ada kabar sedikit tak menyenangkan, dokumen yang sedianya akan di putar untuk sajian penyamun-penyamun nanti bakal urung, hanya karena alasan sepele, kamar berantakan, entah dimana, tidak kutahu kebenarannya, semoga perputaran semesta menggiringmu mendapatkannya dan kau ikut bahagia menjadi adonan disini. Apakah engkau penyamun juga ? kuharap. Seperti siang ini, Bongkeng yang melahap duluan perkedel, cara melahapmu punk habis. Tidak apa-apa.

Sedikit kukabarkan, adonan ini begitu penting, dan sangat penting, kukira. Sudah tidak lagi berpikir batas lintas dalam cara cara berkesenian atau lebih luasnya sebuah pertemuan-pertemuan, dengan cara yang berbeda-beda tentu saja namun itu sangat menghargai keberadaan manusia, masyarakat, hewan, tumbuhan dengan sehat Makhluk hidup. Open mind – open heart.

Selamat selamat selamat, aku berasa sungguh bangga bersahabat dengan semua peristiwa ini, sederhana atau tidak sederhana. Kanvas - kanvas itu menemui nasib di mata pertemuannya, beranda kebun belakang yang akan dirajah, dan sapaan hangat Kris berhelm hitam yang belum sempat dilepas. Oh ..merindu pada sahabat - sahabat lain yang belum menampakan batang lehernya, dimana kamu Danto ? maaf semalam teknologiku marah batunya. Lompat jauh. Kukira, jejak di lantai yang baru saja di pel oleh Lia sudah nampak, teriakannya menandakan sirene peristiwa dalam kalender maya oleh tradisi gypsi, akan berlanjut, selayaknya tangan tangan yang menggunting daun-daun dan meninggalkan potongan-potongan acak. Apalagi yang harus dibaca, apalagi yang harus di baui, apalagi yang harus di dengar, apalagi yang harus dirasakan oleh kulit kulit ini, selayaknya gumpalan hati lembut, dia sudah mencair, akan menemukan arus alirannya dan bermuara pada setiap kekuatan personal-personalnya. Fredom for insight, freedom for outsight, be one. Sudah mendekati akhir, daun – daun telah bersahabat dengan serbet dan di tata tepat di etalase kaca oleh tangan – tangan sahabat lain, air sumur memancar dengan derasnya, manusia burung beranda belakang selalu terjaga walau nino mengkerudunginya, kebun berwarna warni, seluruh ruangan meyerbak wangi, paras cantik lady Jane menyeka lalu lintas depan belakang dengan sapu lidi, dan kuingat teman rumah dua gadhis bermata biru, senapan – senapan besi segera dibungkus saja, tak ada lagi peperangan fisik, hanya senapan – senapan pelepah pisang, kedamaian dan kebahagiaan. Peperangan yang paling sengit adalah hanya didalam diri, dan satu tegukan penghilang dahaga, bisa jadi cara sederhana untuk keluar dari kancah medan sebagai maestro.

Selamat Survive dan semua, Bravo!! : heii !! sahabatku sudah datang. salam hangat selalu bahagia dari Creamus Poems. Yoyo Jewe dan Bagus Dwi Danto

Tidak ada komentar:

Templates by Blog Forum