Minggu, 16 Maret 2008

Pesta Di Sarang ‘ Pemabuk ‘

( Jogjakarta Nusantara Muuseum )
Dan.., aku duluan ke museum, kutunggu disana ya. Kita sama-sama tahu akan ada pesta puisi ala hip hop bro…, hehehe juga pesta perpisahan Jessica yang mau mengeram sebentar di negaranya. Sepedaku tidak melibas lampu merah, karena ada hak orang yang menyeberang meskipun penyeberangan itu kosong. Masuk area…slack! Sepeda bebas parkir, hehhehe…silahkan, itu yang kudengar walau tak kulihat muka penjaga itu, sangat intim dan ramah. Ratih, satu nama yang belum jadi satu frekwensi ‘ memakai gaun merah, cantik dan sedikit terlihat capek, mungkin habis cuci piring dua hari, dia berdiri di sebelah penyair eks tapol HerSri dan seseorang yang menaksir sepedaku. Itu kudengar dari kamu dwi danto. “ Kusen, ambil saja, asal ditukar satu lukisan “ kataku. Aku masih menunggu kamu Dwi Danto, ketika Kulihat Inna menendang angin di depanku, wajahmu sudah siap untuk menyambut Ria Irawan yang akan kau bombardir dengan keringat jari-jarimu sedari siang. Keringat itu sudah jadi Inna ? dalam hatiku. Shanty, sudah menyungging senyum duduk bersebelahan dengan Ria Irawan, yang konon seperti dewi bawang merah di dapurku atau Miss Annie Sloman, hehehe, aku tidak tahu. Apakah bawang merah itu sedang melumat keringat jarimu Inna ? Aku senang melihatnya Inna, seandainya di medan pertempuran, kamu masih pejuang dan akan di garis depan walau kau tahu amunisimu mungkin tak cukup banyak. Itulah orang orang avant garde !!. tentang bawang merah itu, santai saja, kalau di dapur tak ada, masih banyak tomat, cabe, terong, bawang Bombay, sayuran di kebun belakang, sampai waktunya. Kita akan masak sup kan ?? iya kan dwi danto…heheheh, creamus makan makroni sudah,..creamus akan makan sup.,hehehe, bukan creamus makan bawang merah. Kutinggalkan bawang merah ke toilet untuk mencuri dua botol anggur dan bir, sudah ada ada di benak, aku masih menunggumu dwi danto, untuk melewatkan pesta puisi “ what the fuck !1” ini dengan botol-botol curianku bersama kamu, Come..come Inna, tinggalkan bawang merah itu, mari kita buat dunia puitis dengan keringat dan cara kita. Terakhir untukmu Dwi Danto, malam itu sudah jadi puisinya, dengan surat pisah dari pengadilan, yang kau bawakan dari ibu salju selatan, orang yang kucintai namun dunia menginginkan lain, tapi malam itu kubisikkan selamat dan sedikit kucium telinganya, dia tersenyum . Puitis. Terima kasih brother..:

:::::: Dhik Igit, kamu telah membuat puisi denganku dan kakak yang mencintaimu, malam itu, bersama botol-botol anggur yang ku curi dari toilet.
:::::: Jessica, thanks a lot untuk masturbasi 100 dolar yang kau berikan padaku, take care and see you soon
:::::: Bayu widodo, pelukan hangat untuk ‘Bunga Terakhir’ yang di curi kolektor dan mari kita buat selebaran, WHAT THE FUCKER…!!.hehe. Danto.., sambut itu !! hehe
:::::: Ratih, gaun merahmu cukup menginspirasiku.
:::::: Doddy TP, thanks a lot untuk akhir yang puitis dari usai pesta, malam itu, dua sepeda mendera hampir pagi dengan cengkerama dan menyapa orang-orang yang tak kita kenal sebelumnya, penyapu jalan, ibu ke pasar, orang yang dianggap gila, ayah ibu dari anaknya dan orang-orang tua yang ‘nyenyak’ di beranda toko-toko. Hatiku bersama kalian.

Tidak ada komentar:

Templates by Blog Forum